Berawal dari kegagalan, kemudian memilih untuk terus belajar.
Saya, Wahyu Imamuddin, memulai perjalanan ini dari sebuah kegagalan. Saat SMA, saya tidak lulus Ujian Nasional. Pada masa itu, kegagalan tersebut dianggap sebagai akhir dari masa depan — kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi maupun mendapatkan pekerjaan terasa hampir tertutup. Namun, saya tidak menyerah.
Saya sempat masuk ke perguruan tinggi swasta jurusan Teknik Informatika, tetapi setelah tiga bulan saya memutuskan untuk berhenti demi mengejar kesempatan lain: bekerja di Jepang.
Pada tahun 2012, di usia 19 tahun, saya berangkat ke Jepang sebagai jisshuusei (pemagang teknis). Selama tiga tahun (2012–2015), saya belajar secara autodidak hingga berhasil lulus JLPT N2 dan 留学試験 (ujian masuk universitas Jepang). Awalnya, saya berencana melanjutkan kuliah di Jepang, namun karena kendala pribadi, rencana tersebut harus saya tunda.
Sepulang ke Indonesia, saya menjadi pengajar bahasa Jepang di salah satu LPK ternama di Jawa Tengah. Kesempatan kembali ke Jepang datang ketika saya mengikuti tes magang ke-3 dan dinyatakan lolos. Pada periode 2018–2020, saya kembali bekerja di Jepang. Saat itu Jepang tengah sibuk mempersiapkan Olimpiade 2020, sehingga pekerjaan sangat padat dan hampir setiap hari lembur. Waktu belajar terbatas, dan saya gagal meraih JLPT N1.
Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal. Kepulangan saya ke Indonesia pada 2020 yang semula hanya direncanakan enam bulan, akhirnya tertunda hingga dua tahun karena larangan masuk ke Jepang. Selama masa tersebut, saya mengajar bahasa Jepang di perguruan tinggi keperawatan di Yogyakarta.
Pada tahun 2022, Jepang kembali membuka akses, dan saya berangkat lagi dengan visa SSW No.1. Setahun kemudian, pada 2023, saya berhasil meraih JLPT N1 serta ダクト板金試験 1級 (Ujian Duct Sheet Metal Grade 1). Pencapaian ini mengantarkan saya memperoleh SSW No.2 pada tahun 2024. Kini, saya bekerja sebagai manajer pekerja Indonesia di perusahaan Jepang yang dulu pernah menampung saya sebagai pemagang.
Setelah perjalanan panjang ini, saya merasa sudah saatnya memberikan kembali kepada masyarakat. Saya menyadari betapa mahalnya biaya belajar bahasa Jepang saat ini, sehingga banyak anak muda yang kurang beruntung terhalang untuk mengejar mimpi ke Jepang.
Karena itulah saya mendirikan Takumi Japanese Class — sebuah lembaga kursus bahasa Jepang dengan biaya terjangkau, kualitas terjaga, dan waktu belajar yang fleksibel.